633 Cash - Melintasi dataran
tinggi di Bolivia barat terdapat jaringan ribuan garis lurus yang nyaris
sempurna, yang terukir di tanah.
Dinamai sesuai gunung berapi di
dekatnya, garis Sajama terletak di bawah bayang-bayang puncak tertinggi
Bolivia itu. Dari tanah, garis praktis tak terlihat dan sering
diabaikan. Hanya dari udara, orang bisa mengenali karya seni prasejarah
terbesar di dunia itu, yang hingga kini masih tak bisa dipahami
maknanya.
Garis Sajama rata-rata antara satu dan
tiga meter, dan melaju dari beberapa meter sampai beberapa kilometer.
Garis terpanjang ukurannya sekitar 20 kilometer. Mereka tercipta dari
pembuangan batuan hasil oksidasi yang permukaannya gelap, hingga
mengekspos tanah yang lebih ringan di bawahnya.
Seringkali, garis mencolok dan biasanya
agak tinggi sehingga mudah terlihat. Periset berpikir bahwa " pusat
radial" ini bisa jadi lokasi kuil kuno, menara pemakaman atau bahkan
kota. Sebuah teori menyebutkan bahwa garis tersebut digunakan oleh
masyarakat adat sebagai pemandu mereka saat melakukan ziarah suci.
Memang, beberapa jalan modern yang menghubungkan kota-kota tampaknya
dibangun di atas garis lurus ini.
Secara keseluruhan, garis Sajama
mencakup area seluas kurang lebih 22.000 kilometer persegi, yang
kira-kira lima belas kali lebih besar dari garis Nazca yang terkenal di
Peru selatan. Perkiraan kasar menempatkan panjang linier mereka di
16.000 kilometer dengan wujud yang menakjubkan. Beberapa menganggap,
garis Sajama sebagai karya seni terbesar di dunia.
Jumlah garis tipis yang ada menunjukkan
bahwa mereka telah dibangun selama banyak generasi yang mencakup
ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Iklim gersang dengan curah hujan
yang jarang serta vegetasi yang tumbuh lambat, membuat garis tetap
relatif utuh.
Meskipun berada di dekat garis Nazca
yang lebih populer di Peru, penelitian tentang garis Sajama masih sangat
sedikit. Baru pada tahun 1932, ulasan singkat pertama tentang keajaiban
alam ini dibuat dalam bahasa Inggris oleh Profesor Argentina, Aime
Felix Tschiffely. Kemudian pada dekade yang sama, Antropolog Alfred
Metraux meneliti struktur garis tersebut hingga mendapat perhatian dari
para ilmuwan, melalui karya lapangan etnografinya tentang orang-orang
Aymara dan Shipaya di wilayah Carangas.
Studi ilmiah pertama dari garis itu
dibuat pada tahun 2003 oleh University of Pennsylvania, bekerjasama
dengan organisasi yang sekarang sudah tidak berfungsi, yakni the
Landmarks Foundation. Sejak itu, belum ada penelitian lebih lanjut yang
dilakukan. Selain gambar satelit, bahkan tidak ada foto layak yang tersedia di internet tentang garis Sajama.

0 comments:
Post a Comment