633 Cash - Leumang merupakan kudapan khas berbuka puasa di Aceh.
Cara membuatnya pun khas dan berbeda dengan kue tradisional lainnya.
Makanan yang terbuat dari beras ketan ini serupa dengan pulut, namun dalam ukuran yang lebih besar.
Leumang enak disantap selagi hangat dan dicocol dengan selai yang dibuat khusus sebagai pelengkap.
Sesuai bagi lidah mereka yang menyukai citarasa penganan manis dan legit.
Sebut saja pada saat Ramadan tiba. Seperti pemandangan yang terlihat di sisi Jalan Syiah Kuala, Banda Aceh, tepatnya di Simpang Lambaro Skep.
Leumang Wak sudah ada sejak 2003 lalu dan banyak dicari penikmatinya.
Hafsah dan keluarga setia menggunakan buluh bambu yang menjadi ciri khas leumang dan memasaknya di atas bara api selama berjam-jam.
Leumang menggunakan bahan utama berupa beras ketan atau ubi kayu, gula pasir, garam, dan diguyur dengan santan kental serta sedikit colekan mentega untuk menambah kelezatan rasa.
Guna mendapatkan citarasa sempurna, leumang hanya menggunakan bambu untuk sekali pakai dan dalam kondisi segar.
Buluh berukuran besar-kecil itu lantas dipotong tiap ruasnya.
Di dalamnya dilapisi dengan daun pisang yang masih muda, juga dalam kondisi segar.
Adonan leumang lalu dimasukkan ke dalam buluh bambu yang sudah beralas daun pisang dan dibakar memakai api besar hingga sekitar empat jam.
Ruas-ruas bambu setinggi sekitar 50 meter dengan diameter 3-5 Cm itu mula-mula dijejerkan di samping bara api, lantas dibolak-balik agar matang sempurna.
Leumang yang sudah matang bisa dilihat dari kondisi buluh yang kuning kecoklatan karena terus menerus dijilat api.
“Dalam sehari kami bisa menghabiskan hingga 150-200 ruas bambu. Kami menjual leumang ketan putih, ketan hitam, dan leumang ubi,” ujar Hafsah yang dibantu oleh tujuh orang anak, menantu, dan juga cucunya.
Bandar Bola Agen Bola Agen Judi Bola Online Agen Bola Terpercaya Judi Bola

0 comments:
Post a Comment