633 Cash - Bagi masyarakat Aceh khususnya
wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, tentu tidak asing lagi dengan bunyi
khas pertanda buka puasa di bulan Ramadan.
Raungan itu berasal dari sirine tua yang hingga saat ini masih berfungsi baik.
Menurut
riwayat sirine tua itu merupakan peninggalan zaman Belanda itu dan
ditempatkan di puncak menara Selatan Masjid Raya Baiturrahman (MRB)
Banda Aceh.Kabarberita berkesempatan melihat langsung sirine legendaris tersebut menjelang Bulan Ramadan.
Ditemani Samsul, seorang staf kesekretariatan masjid, kami diizinkan masuk ke menara setinggi 35 meter itu.Samsul mengatakan, bunyi sirine itu hingga kini masih menjadi pengingat
imsak dan berbuka puasa bagi masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar.
“Selama ramadhan, sirine ini dihidupkan tiga kali yaitu pada pukul 3 dini hari, saat imsak, dan berbuka puasa,” kata pria yang telah puluhan tahun mengabdi di MRB.
Selanjutnya kami menaiki tiap anak tangga menara, hingga ke tingkatan ke-6, tempat benda pusaka itu bersemayam.
Sedikitnya, ada 20 anak tangga di tiap tingkatan menara MRB Banda Aceh.
Saat mencapai puncak menara, Samsul menunjukkan kami sebuah benda unik menyerupai baling-baling besi yang sudah berkarat.
Di sampingnya tersandar potongan drum minyak, sebagai penutup mesin tua saat hujan.
Baling-baling itu terhubung dengan dinamo yang saklarnya berada di ruang operator kesekretariatan MRB.
Dengan sigap, Samsul menelepon operator untuk menghidupkan benda kuno tersebut.
Spontan saja kami tersentak saat mesin tua itu tiba-tiba bergerak.
Putaran kencang baling-baling besi itu menimbulkan suara seperti orang meraung.
Ternyata bunyi sirine itu terdengar menakutkan dari jarak dekat, bahkan getaran sangat terasa saat kita berada di dekat mesin.
Samsul yang berada di belakang hanya tersenyum geli saat melihat kami panik.
Setelah mendengar sirine berbunyi selama 5 menit, kami pun turun dari menara dan menjumpai si operator.
Heri Ansari (48), operator kelistrikan MRB yang juga bertugas sebagai operator sirine mengatakan, bunyi sirine dapat terdengar hingga radius 5 kilometer tanpa pengeras suara.
“Kira-kira 5 km, atau kurang lebih sampai pelabuhan Ulee Lheue,” kata pria yang sejak umur 18 tahun bekerja di masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu.
Menurutnya, tidak ada perawatan khusus terhadap sirine, namun dinamonya perlu dicek secara berkala.
Heri tambahkan, bunyi khas sirine versi radio telah direkam sejak lama, dan diputar selama satu bulan setiap tahunnya.
“Namun saya tetap rutin menghidupkan sirine itu bersamaan dengan bunyi di radio,” jelasnya.
Menurut dia, sirine tersebut aslinya pakai dayungan manual untuk menggerakkan baling-baling penghasil bunyi itu.
Namun saat ditempatkan di menara masjid, alat tersebut dimodifikasi dengan memasang dinamo dan dihubungkan ke arus listrik.
“Jadi operator tinggal menekan tombol saja untuk membunyikan sirine,” jelas Heri sambil menjelaskan baling-baling sirine tidak pernah rusak sejak dulu, hanya saja dinamonya yang sekali-kali perlu diservis.
Bandar Bola Agen Bola Agen Judi Bola Online Agen Bola Terpercaya Judi Bola

0 comments:
Post a Comment