Tuesday, October 29, 2019

MENIKMATI KEDAI CAMILAN JEPANG YANG MENGGUNAKAN KUAH YANG DIMASAK SEJAK 1945

Live303 - Makanan khas Jepang memiliki daya tarik sendiri. Sebut saja hanya sushi, ramen, tempura, dan mi udon yang banyak disukai orang, bukan hanya warga Jepang. Ada satu lagi camilan berkuah khas Jepang yang juga bikin ketagihan karena rasa gurihnya, yaitu oden.Oden adalah sup tradisional Jepang yang direbus dalam kaldu sampai disajikan. Nah, ada kedai oden legendaris bernama Otafuku yang termasuk restoran tertua di Tokyo.Keunikan restoran ini adalah memakai kaldu yang sama setiap hari sejak 1945. Karyawan restoran tersebut hanya menambahkan lebih banyak air ke dalam kaldu saat mendidih. 
 MENIKMATI KEDAI CAMILAN JEPANG YANG MENGGUNAKAN KUAH YANG DIMASAK SEJAK 1945
Dikutip dari Kabarberita, ini mungkin terdengar menjijikan bagi banyak orang. Namun justru hal tersebut merupakan rahasia kuah oden memiliki rasa yang luar biasa.Oden dinikmati oleh para pecinta sayur dan daging, karena mengandung semua jenis bahan, mulai dari telur, tahu, dan sayuran hingga daging hiu, daging sapi, bakso ikan, dan lidah ikan paus. Rahasia kelezatannya terletak pada kaldunya.Banyak restoran di Jepang yang bergantung pada stok utama, kaldu yang telah berulang kali digunakan untuk merebus atau merebus daging. Namun, tak ada yang menggunakannya lebih lama dari Otafuku, yaitu sejak 1945.Otafuku adalah restoran oden tertua di Tokyo, dan kaldu yang berusia 65 tahun jadi hal yang legendaris. Kaldu di Otafuku tak pernah dibuang. Setiap malam disaring dan dikeluarkan dari panci tembaga dalam kondisi mendidih sehingga panci bisa dibersihkan.Setelah itu dimasukkan kembali ke panci dan ditutup semalaman, tapi tak didinginkan. Keesokan harinya, dipanaskan lagi, dengan bahan-bahan segar dan air ditambahkan sesuai kebutuhan.Banyak restoran oden di Jepang berusaha keras untuk mempertahankan kaldu mereka selama mungkin, dan kaldu berusia 10 tahun bukanlah hal yang aneh. Namun, kaldu berusia 65 tahun di Otafuku, di distrik Asakusa Tokyo saat ini dianggap sebagai oden tertua yang ada.

- by Fika lestari

0 comments:

Post a Comment