Live303 - Siapa yang tak pernah makan mie instan? Mungkin hampir semua orang di Indonesia, dan sebagian besar warga negara tetangga, Malaysia atau Filipina, pernah mengonsumsinya.Selain harganya murah, cara membuat mie instan juga mudah dan cepat. Tidak mengherankan jika mie instan jadi idola di ketiga negara tersebut.Sayangnya, di balik murah, mudah dan lezatnya mie instan itu menyimpan bahaya bagi kesehatan dan gizi anak-anak di wilayah Asia Tenggara.
Tentu saja jika kamu mengonsumsinya berlebihan.Pada hari Selasa pagi, badan PBB yang mengurus masalah anak-anak, Unicef, mengeluarkan laporan yang mengejutkan tentang dampak mie instan.Menurut laporan tersebut, rata-rata 40 persen anak-anak berusia 5 tahun ke bawah di ketiga negara itu mengalami kekurangan gizi, lebih tinggi dari jumlah rata-rata global. Mereka kekurangan gizi karena sering mengonsumsi mie instan." Jika anak-anak makan dengan gizi yang buruk, mereka juga akan hidup dengan buruk," kata direktur eksekutif Unicef, Henrietta Fore, dalam laporan State of the World's Children sejak tahun 1999.Sementara itu, Hasbullah Thabrany, seorang pakar kesehatan masyarakat asal Indonesia, mengatakan orang tua punya pandangan yang salah tentang pola makan anak-anak.Menurutnya, para orang tua hanya memikirkan bagaimana membuat perut anak-anak kenyang." Mereka tidak memikirkan kecukupan gizi dan nutrisi, seperti protein, kalsium atau serat dalam makanan anak-anak," kata Hasbullah.Padahal, kekurangan zat besi akan merusak kemampuan anak untuk belajar, serta meningkatkan risiko kematian wanita selama atau setelah melahirkan.Mueni Mutunga, spesialis nutrisi Unicef Asia, menyebutkan keluarga-keluarga di Asia Tenggara mulai meninggalkan diet tradisional yang menyehatkan.Mereka sekarang telah beralih ke makanan 'modern' yang terjangkau, mudah diakses dan mudah disiapkan." Mie instan itu murah dan mudah menyiapkannya. Mie instan adalah pengganti yang cepat dan mudah untuk apa yang seharusnya menjadi diet seimbang," katanya.
Tentu saja jika kamu mengonsumsinya berlebihan.Pada hari Selasa pagi, badan PBB yang mengurus masalah anak-anak, Unicef, mengeluarkan laporan yang mengejutkan tentang dampak mie instan.Menurut laporan tersebut, rata-rata 40 persen anak-anak berusia 5 tahun ke bawah di ketiga negara itu mengalami kekurangan gizi, lebih tinggi dari jumlah rata-rata global. Mereka kekurangan gizi karena sering mengonsumsi mie instan." Jika anak-anak makan dengan gizi yang buruk, mereka juga akan hidup dengan buruk," kata direktur eksekutif Unicef, Henrietta Fore, dalam laporan State of the World's Children sejak tahun 1999.Sementara itu, Hasbullah Thabrany, seorang pakar kesehatan masyarakat asal Indonesia, mengatakan orang tua punya pandangan yang salah tentang pola makan anak-anak.Menurutnya, para orang tua hanya memikirkan bagaimana membuat perut anak-anak kenyang." Mereka tidak memikirkan kecukupan gizi dan nutrisi, seperti protein, kalsium atau serat dalam makanan anak-anak," kata Hasbullah.Padahal, kekurangan zat besi akan merusak kemampuan anak untuk belajar, serta meningkatkan risiko kematian wanita selama atau setelah melahirkan.Mueni Mutunga, spesialis nutrisi Unicef Asia, menyebutkan keluarga-keluarga di Asia Tenggara mulai meninggalkan diet tradisional yang menyehatkan.Mereka sekarang telah beralih ke makanan 'modern' yang terjangkau, mudah diakses dan mudah disiapkan." Mie instan itu murah dan mudah menyiapkannya. Mie instan adalah pengganti yang cepat dan mudah untuk apa yang seharusnya menjadi diet seimbang," katanya.
Butuh tempat bermain JUDI BOLA ONLINE Silakan klik AGEN SBOBET IBCBET AGEN BOLA ONLINE AGEN SBOBET 25RB atau PREDIKSI PERTANDINGAN

0 comments:
Post a Comment