Friday, March 22, 2019

MISTERI PRAKTIK BARBAR KUNO YANG MASI ADA DI ERA MODERN

Live303 - Pada jaman dulu, ketika masyarakat masih belum berkembang karena tenaga produktif masih mandeg dan ilmu pengetahuan dan teknologi belum tersebar, apa kata tetua komunitas, maka rakyatnya (pengikutnya) harus percaya. Ketika para “pendongeng” mengamini tradisi Primae Noctis yang memberikan hak raja untuk memperawani perempuan yang baru nikah sebelum bercinta pada malam pertama, maka rakyat semua negeri menganggapnya sebagai hal yang wajar, bahkan mungkin juga oleh sebagian “intelektual” atau “pujangga”-nya, dianggap sebagai “kearifan”.
 MISTERI PRAKTIK BARBAR KUNO YANG MASI ADA DI ERA MODERN

Anda tahu, di abad 20 saja, masih ada tradisi di daerah Nepal, di mana kalau musim paceklik, maka seorang perempuan dibunuh agar “bebendu” bisa diatasi dengan cara itu. Tradisi Devaki namanya. Saya bisa menunjukkan kesesatan-kesesatan dari kacamata pikiran ilmiah modern yang masih dianggap sebagian orang sebagai “kearifan lokal”. Istilah ini kadang digunakan secara serampangan, tanpa merujuk pada suatu yang jelas dan konkrit. Pada hal kalau ia dijelaskan secara konkrit, contoh kearifan-kearifan “lokal” itu, kita bisa melihatnya apakah yang lokal itu benar-benar arif ataukah justru menyesatkan dan merupakan jenis dehumanisasi yang gampang dinilai di era kini.Tapi masalahnya sisi pandang posmodernis-relativis mengatakan bahwa “tiap masyarakat punya kearifan masing-masing yang tak bisa dilihat dari kacamata orang lain”—bahkan kacamata universal yang ilmiah dianggap tak boleh mengintervensi. Inilah masalahnya. Relativisme, salah pilar posmodernisme, sebenarnya adalah penjajahan paling membahayakan. Karena kedok “kearifan lokal”  (yang amat dipercayanya) menjadi topeng untuk menyembunyikan sisi-sisi keterbelakangan dan menutupi fakta adanya relasi-relasi sosial pada masyarakat.Pada jaman yang sudah terbuka, dengan pergeseran pikiran feodal yang sulit bertahan karena tak ada basis historisnya, meninggalkan lokalitas (“terutama yang tidak arif” atau yang dikira “kearifan lokal” tetapi ternyata “kebodohan lokal”) merupakan hal yang harus ditinggalkan. Apalagi pengetahuan sembrono yang tidak ilmiah yang jika digunakan justru memperosokkan kita pada jurang keterbelakangan.Jika yang lokal adalah baik dan punya viabilitas, dia seharusnya bisa menjawab tantangan jaman. Berhadapan dengan kapitalisme, tradisionalitas juga tidak melahirkan alternatif, ratarata larut ke pasar. Lalu nilainya bukan hanya tidak viabel, tapi juga bahkan kian anomali.Lalu, pengetahuan berbasis lokalitas? Lebih kacau lagi jika ia tak dielaborasi sisi ilmiahnya. Pengetahuan lokal sebagai produk masyarakat kuno yang feodalistik, yang berbasis relasi penindasan kelas dengan kehidupannya yang menyebarkan kebohongan dan irrasionalitas, menjadi tak berkutik di hadapan modernitas karena memang tak lagi punya nilai guna. Sisi ilmiahnya, jika ada, juga tak dikonstruksi.

- by Fika lestari

0 comments:

Post a Comment