Live303 - Ketika mendengar kata “Raja”, apa yang ada di benak kita pastilah sosok pria yang berwibawa, perkasa, dan punya karakter yang bisa bikin siapa pun tunduk di hadapannya. Atau kamu yang suka sama dongeng mungkin membayangkan pria tampan dengan kuda putih yang mampu menaklukkan kerajaan.Penggambaran kayak gitu sebenernya sah-sah saja, toh Alexander the Great pun diketahui memiliki wajah yang tampan di samping kepiawaiannya memimpin kerajaan. Tapi di artikel ini kita ngggak akan membahas tentang Alexander the Great, melainkan Carlos II dari Spanyol yang punya reputasi sebagai raja paling buruk rupa sepanjang sejarah.
Raja Carlos merupakan generasi ke-16 dari dinasti Hepsburg. Di masa kejayaannya, dinasti ini sering kali melakukan praktik yang banyak dilakukan anggota kerajaan zaman dulu, yaitu perkawinan sedarah. Mereka yakin bahwa dengan mengawinkan orang-orang di dalam keluarga kerajaan, garis keturunan mereka akan semakin kuat. Hepsburg paling anti menikahkan anggota keluarganya dengan rakyat biasa. Dan ironisnya, hal itu justru malah membuat rezim Hepsburg tumbang di kemudian hari.Raja terakhir mereka, Carlos II, lahir dengan masalah genetis yang membuat kondisi fisiknya tak seperti manusia normal. Carlos memiliki tubuh kurus dan lemah, tak selaras dengan ukuran kepalanya yang besar. Rahangnya yang menojol ke depan membuat ia seringkali kesulitan mengunyah makanan. Dan ia pun terus meneteskan air liur karena lidahnya yang besar pula.Nggak cuma itu, masalah genetis membuat kondisi mental dan kesehatan Carlos pun terganggu. Bayangkan, Carlos baru bisa bicara pada umur 4 tahun dan mampu berjalan saat menginjak usia 8 tahun. Semasa hidupnya ia sering sakit-sakitan. Diare dan kejang-kejang adalah dua gangguan kesehatan yang paling sering ia alami. Kondisi tersebut membuat hidup Carlos cenderung bergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Hmm.. menyedihkan memang, apalagi mengingat bahwa Carlos II adalah “korban” dari perkawinan sedarah dinasti Hepsburg.Hubungan antara ayah dan ibu Carlos adalah paman dan keponakan. Dengan kata lain, berarti ibunya Carlos masih bisa dianggap juga sebagai sepupunya sendiri… Wow! Pernikahan antara paman dan keponakan, dan sepupu dengan sepupu adalah yang paling sering terjadi di dinasti Hepsburg.Pada tahun 1665, ketika masih menginjak usia 4 tahun Carlos sudah dinobatkan menjadi raja. Waktu itu ia masih didampingi ibunya yang berperan sebagai bupati selama 10 tahun sampai Carlos remaja. Namun ketidakmampuan Carlos menjadi raja sebagaimana mestinya, membuat Hepsburg menunjuk seorang “Primer Ministro“ atau Perdana Menteri kerajaan untuk pertama kalinya di pemerintahan mereka.
Raja Carlos merupakan generasi ke-16 dari dinasti Hepsburg. Di masa kejayaannya, dinasti ini sering kali melakukan praktik yang banyak dilakukan anggota kerajaan zaman dulu, yaitu perkawinan sedarah. Mereka yakin bahwa dengan mengawinkan orang-orang di dalam keluarga kerajaan, garis keturunan mereka akan semakin kuat. Hepsburg paling anti menikahkan anggota keluarganya dengan rakyat biasa. Dan ironisnya, hal itu justru malah membuat rezim Hepsburg tumbang di kemudian hari.Raja terakhir mereka, Carlos II, lahir dengan masalah genetis yang membuat kondisi fisiknya tak seperti manusia normal. Carlos memiliki tubuh kurus dan lemah, tak selaras dengan ukuran kepalanya yang besar. Rahangnya yang menojol ke depan membuat ia seringkali kesulitan mengunyah makanan. Dan ia pun terus meneteskan air liur karena lidahnya yang besar pula.Nggak cuma itu, masalah genetis membuat kondisi mental dan kesehatan Carlos pun terganggu. Bayangkan, Carlos baru bisa bicara pada umur 4 tahun dan mampu berjalan saat menginjak usia 8 tahun. Semasa hidupnya ia sering sakit-sakitan. Diare dan kejang-kejang adalah dua gangguan kesehatan yang paling sering ia alami. Kondisi tersebut membuat hidup Carlos cenderung bergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Hmm.. menyedihkan memang, apalagi mengingat bahwa Carlos II adalah “korban” dari perkawinan sedarah dinasti Hepsburg.Hubungan antara ayah dan ibu Carlos adalah paman dan keponakan. Dengan kata lain, berarti ibunya Carlos masih bisa dianggap juga sebagai sepupunya sendiri… Wow! Pernikahan antara paman dan keponakan, dan sepupu dengan sepupu adalah yang paling sering terjadi di dinasti Hepsburg.Pada tahun 1665, ketika masih menginjak usia 4 tahun Carlos sudah dinobatkan menjadi raja. Waktu itu ia masih didampingi ibunya yang berperan sebagai bupati selama 10 tahun sampai Carlos remaja. Namun ketidakmampuan Carlos menjadi raja sebagaimana mestinya, membuat Hepsburg menunjuk seorang “Primer Ministro“ atau Perdana Menteri kerajaan untuk pertama kalinya di pemerintahan mereka.
Butuh tempat bermain JUDI BOLA ONLINE Silakan klik AGEN SBOBET IBCBET AGEN BOLA ONLINE AGEN SBOBET 25RB atau PREDIKSI PERTANDINGAN

0 comments:
Post a Comment