Live303 - Kabupaten Tambrauw di Provinsi Papua Barat mungkin belum familier di telinga Anda. Bagi para petualang, inilah saatnya Anda memasukkan Tambrauw di bucket list liburan tahun ini.Tanah basah menyambut Okezone dan rombongan Kementerian Pariwisata di Desa Siakwa, Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw. Maklum, menurut penuturan warga setempat, semalam hujan cukup deras.Kedatangan kami disambut dengan tarian selamat datang ‘Serara’ yang dilakukan oleh sekira 18 orang Suku Miyah.
Tari Serara merupakan tarian yang biasa dilakukan untuk menyambut kaum lelaki yang telah menyelesaikan pendidikan adat. Dengan pakaian khas dan tongkat serta atribut khusus, kaki mereka bergerak lincah seiring lagu yang keluar dari mulut secara bersamaan.Kedatangan kami ke Desa Siakwa tak lain adalah untuk mengunjungi Air Terjun Anenderat. Maka usai menyaksikan pertunjukan Tari Serara, kami diarahkan untuk menuju air terjun di seberang sungai. Untuk sampai di Air Terjun Anenderat, kami harus menyeberangi sungai selebar kurang lebih 10 meter.Tinggi air sungai saat itu sekira 60 sentimeter, arusnya cukup deras sehingga jika tidak menapakkan kaki dengan kuat, akan berbahaya. “Biasanya tingginya hanya sebetis. Tapi tadi malam turun hujan, jadi sungainya semakin deras,” ujar salah satu penduduk yang membantu menyeberang kepada Kabarberita.Usai menyeberangi sungai, suara derasnya air terjun yang bermuara di sungai terdengar cukup keras. Untuk melihatnya lebih jelas, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekira dua menit. Jalanannya terjal dan sangat licin, butuh keseimbangan tubuh dan pijakan yang kuat agar tidak terpeleset.Bagai harta yang tersembunyi, Air Terjun Anenderat berada di balik pepohonan yang lebat. Uniknya, air terjun ini memiliki tujuh tingkat yang bentuknya semakin ke bawah semakin melebar. Debit air yang tinggi setelah hujan membuat arusnya sangat deras.“Hati-hati, arusnya sangat deras kalau musim hujan. Jangan sembarang pijak batu, licin,” pesan Sofiana Momo, Kepala Distrik Miyah.
Tari Serara merupakan tarian yang biasa dilakukan untuk menyambut kaum lelaki yang telah menyelesaikan pendidikan adat. Dengan pakaian khas dan tongkat serta atribut khusus, kaki mereka bergerak lincah seiring lagu yang keluar dari mulut secara bersamaan.Kedatangan kami ke Desa Siakwa tak lain adalah untuk mengunjungi Air Terjun Anenderat. Maka usai menyaksikan pertunjukan Tari Serara, kami diarahkan untuk menuju air terjun di seberang sungai. Untuk sampai di Air Terjun Anenderat, kami harus menyeberangi sungai selebar kurang lebih 10 meter.Tinggi air sungai saat itu sekira 60 sentimeter, arusnya cukup deras sehingga jika tidak menapakkan kaki dengan kuat, akan berbahaya. “Biasanya tingginya hanya sebetis. Tapi tadi malam turun hujan, jadi sungainya semakin deras,” ujar salah satu penduduk yang membantu menyeberang kepada Kabarberita.Usai menyeberangi sungai, suara derasnya air terjun yang bermuara di sungai terdengar cukup keras. Untuk melihatnya lebih jelas, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekira dua menit. Jalanannya terjal dan sangat licin, butuh keseimbangan tubuh dan pijakan yang kuat agar tidak terpeleset.Bagai harta yang tersembunyi, Air Terjun Anenderat berada di balik pepohonan yang lebat. Uniknya, air terjun ini memiliki tujuh tingkat yang bentuknya semakin ke bawah semakin melebar. Debit air yang tinggi setelah hujan membuat arusnya sangat deras.“Hati-hati, arusnya sangat deras kalau musim hujan. Jangan sembarang pijak batu, licin,” pesan Sofiana Momo, Kepala Distrik Miyah.

0 comments:
Post a Comment