633 Cash - Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda, tercatat sebagai tempat ibadah tertua di kota tersebut.
Usianya kini sudah sekitar 130 tahun lebih.
Masjid yang menyimpan kitab Al Quran, berusia 400 tahunan, ini berstatus cagar budaya yang dilindungi pemerintah.
Kayu ulin dikenal sebagai kayu yang memiliki ketahanan terhadap segala macam cuaca.
Di atas lahan seluas 4000 meter persegi, Masjid Shiratal Mustaqiem hanya berukuran 28x28 meter persegi.
Masjid yang berlokasi di Jalan Pangeran Bendahara Rt.07 Nomor. 20, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Provinsi Kaltim.
Memiliki pelataran yang dibatasi dikelilingi pagar terbuat dari kayu.
Masjid berwarna dominan hijau dipadu warna kuning, menghiasi seluruh bangunan tua yang bersejarah.
Gaya arsitektural Masjid Shiratal Mustaqiem model bangunan kuno berbentuk segi empat.
Atap bangunan Masjid berbentuk limas yang tediri empat susun.
Dari 4000 meter persegi, areal Masjid Shiratal Mustaqim hanya 2.028 meter persegi.
Masjid yang didirikan Habib Abdurahman bin Muhammad Asseggaff yang bergelar Pangeran Bendahara dibangun pada tahun 1881 masehi.
Ia dikenal sebagai bangsawan keturunan Arab sebagai pedagang dari Pontianak, (Kalimantan Barat).
Masjid ini memiliki dua daun jendela berbentuk segi empat, dilengkapi dengan mihrab dan mimbar khotib dengan bahan kayu.
Untuk menara Masjid Shiratal Mustaqiem, unik dan berbeda dengan masjid lainnya.
Menara setinggi 21 meter, terdapat balkon terbuka.
Bentuk puncak atap menara, tidak menggunakan bentuk segi empat melainkan berbentuk pola oval.
Pintu masuk Masjid pun terbuat dari kayu.
Termasuk tiang penyangga atau empat soko guru.
Semua serba kayu, tanpa menggunakan bahan batu ataupun semen.
Kecuali, tempat untuk berwudhu yang sudah menggunakan keramik.
Untuk mihrabnya (ruang untuk imam solat) terlihat sederhana.
Lebarnya sekitar 3 meter x 4 meter dan terdapat tulisan kaligrafi arab dan ukiran khas Samarinda.
Di luar Masjid, tersedia tempat wudhu yang bersumber dari mata air.
Pengurus Masjid Shiratal Mustaqiem, Ishak Ismail mengungkapkan, empat tiang utama di cat warna dominan kuning dan hijau.
Tiang soko guru itu didatangkan dari berbagai daerah.
Menurut cerita, masing-masing tiang disumbangkan dari warga Loa Haur (Gunung Lipan), Gunung Dondang di Samboja, dan Petta Loloncang dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) dan dari Sungai Karang.
Bandar Bola Agen Bola Agen Judi Bola Online Agen Bola Terpercaya Judi Bola

0 comments:
Post a Comment