633 Cash - Laesan, merupakan salah satu kesenian rakyat Lasem, Rembang, Jawa Tengah yang telah berabad-abad hadir di tengah masyarakat. Kesenian
ini merupakan kesenian tradisional berbentuk perpaduan antara tari dan
musik-musik tetabuhan mengiringi lantunan tembang-tembang beraroma
mistis.

Kesenian ini sekaligus menjadi hiburan rakyat. Tumbuh dengan segala macam kontroversinya yang tak putus sampai sekarang.Tak
ada yang tahu pasti kapan kesenian ini lahir. Beberapa pendapat
mengatakan kesenian ini sudah ada sejak zaman Majapahit. Tepatnya pada
masa pemerintahan Bhre Lasem I (Rajasaduhitendu Dewi) yang memimpin
nagari Lasem.Versi lain menyebutkan kesenian ini muncul tak lama
setelah Majapahit runtuh, tepatnya pada masa-masa penyebaran agama
Islam di Lasem. Barangkali versi yang terakhir ini yang lebih dekat,
karena kuatnya syair-syair keislaman dan dekatnya bentuk pertunjukan
Laesan dengan Sintren.Kesenian Laesan secara bentuk memiliki
kemiripan dengan Sintren (Indramayu – Cirebon), terutama spirit bidadari
yang merasuki penari. Karena kemiripan itulah banyak yang mengatakan
bahwa Laesan adalah kepanjangan dari Sintren. Akan tetapi banyak pula
yang menyangsikannya.Hal utama yang paling membedakan antara Sintren dan Laesan adalah penari utama. Laesan
haruslah seorang laki-laki yang disebut Lais. Termasuk pengrawit,
penembang, cantrik dan pawang Laesan, semuanya adalah laki-laki.
Sedangkan Sintren penarinya harus perempuan. Mitos yang beredar
dalam kelompok kesenian tradisi Laesan di Lasem, tarian ini memang tidak
diperkenankan wanita menjadi penari utama atau Lais. Sekalipun indang
atau semangat yang merasuki adalah bidadari. Konon, jika ditarikan oleh seorang wanita, maka akan memicu cinta segitiga yang berujung pada kematian berdarah.Karena
itu, yang paling mencolok untuk membedakan adalah jika kesenian ini
dimainkan oleh perempuan maka disebut Sintren dan jika dimainkan
laki-laki dinamakan Laesan.
Yon Suprayoga, pemimpin kelompok Laesan
Lasem menuturkan bahwa pernah suatu masa, (tahun 1940an atau sebelum
Jepang masuk ke Indonesia), di Lasem, tepatnya di Desa Tulis Lasem, ada
seorang wanita yang berkeinginan untuk menjadi penari utama Laesan.
Bahkan sampai meminta izin kepada para sesepuh Laesan pada masa itu.
Karena terus dipaksa dan tidak bisa menolak, akhirnya wanita tersebut
diizinkan menjadi Lais."Tetapi hal di luar dugaan tiba-tiba
terjadi. Ketika wanita tersebut beraksi menjadi penari Laesan, ada dua
orang penonton yang tiba-tiba jatuh hati melihat kecantikan dan
keanggunannya saat menari. Wanita ini di kemudian hari terjebak pada
cinta segitiga yang akhirnya membuat wanita ini terbunuh," ujar Yon
ketika ditemui di rumahnya di desa Soditan, Lasem, Kabupaten Rembang,
Jawa Tengah.Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu kisah yang menguatkan mitos bahwa Laesan memang haruslah dimainkan oleh laki-laki. "Perempuan
diperkenankan untuk menonton atau membantu pertunjukan, asalkan tidak
menjadi Lais atau penari utama. Selain itu juga agar menjaga unsur-unsur
sensualiatas yang dapat saja berpengaruh buruk," tutur Yon.
Bandar Bola
Agen Bola
Agen Judi Bola Online
Agen Bola Terpercaya
Judi Bola
- by Fika lestari
0 comments:
Post a Comment