633 Cash - ROMUSHA adalah tenaga kerja paksa pada masa pendudukan
bala tentara Jepang. Tenaga kerja paksa ini diambil secara acak oleh
militer Jepang, dengan melibatkan aparatur pemerintah, dan sejumlah
pemimpin pergerakan rakyat.

Jepang memerlukan romusha itu untuk
mengerjakan proyek-proyek militer mereka, baik yang ada di daerah
pendudukan, maupun di luar Indonesia. Para pekerja ini terdiri dari
laki-laki desa miskin, yang berusia antara 16-60 tahun. Sementara
kaum lelaki dijadikan romusha, kaum perempuan dipaksa membajak sawah,
dan melakukan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Sedang anak gadis
mereka dijadikan budak seks tentara Jepang yang ada di garis depan
peperangan. Banyak di antara romusha dikirim ke Sumatera, bahkan
sampai ke Birma, Thailand, dan pulau-pulau bagian timur. Dari kira-kira
500.000 orang yang dikirim kerja paksa, hanya sebagian kecil saja yang
kembali setelah perang usai.Menurut WF Wertheim, dari sekitar
300.000 jiwa yang dikirim ke seberang lautan, hanya sekitar 70.000 orang
saja yang selamat dan bisa kembali ke kampung halaman mereka setelah
perang. Sisanya, meninggal dalam kerja paksa.Para romusha itu
diangkut dengan menggunakan truk-truk dalam perjalanan yang jauh di
daerah pendudukan, dan dalam gerbong-gerbong kereta tertutup rapat tanpa
udara, dengan jumlah ribuan orang berjejalan ke luar Indonesia. Sampai
tempat kerja paksa, para romusha dibelenggu berdampingan dengan para
tahanan perang untuk membuat jalan raya Birma. Selama kerja paksa itu,
mereka dibiarkan kelaparan hingga tubuhnya tinggal kulit pembalut
tulang. Penggambaran lebih rinci dan jelas mengenai nasib
romusha, diceritakan panjang lebar oleh Tan Malaka. Saat dalam
perjalanan menuju pabrik arang Bayah Kozan, di Banten Selatan, Tan
Malaka melewati sepanjang Jalan Saketi-Bayah. Tan Malaka
menulis, Jalan Saketi-Bayah menyimpan sejarah yang menyedihkan. Bahkan
tak kalah sedihnya dengan jalan Anyer ke Banyuwangi pada masa Deandels,
yang memakan ribuan jiwa orang Indonesia buat imperialisme Belanda.Selain jalan Saketi-Bayah, proyek kerja paksa yang banyak menelan jiwa
romusha adalah pulau Manuk yang berada 5-6 kilometer dari kampung Bayah.
Di kawasan ini, romusha dibiarkan mati terserang borok, disentri, dan
malaria. Karena kurangnya perhatian umum, dan tenaga penggali
kubur, mayat romusha yang jumlahnya puluhan ditumpuk saja dalam satu
lubang besar. Hingga setiap hujan turun, mayat-mayat itu mengambang naik
ke atas permukaaan. Para romusha itu banyak yang berasal dari
Solo, Kediri, Bojonegoro, dan daerah pedalaman Jawa lainnya. Rata-rata
mereka berprofesi sebagai petani miskin, dan buta huruf yang diambil
secara paksa oleh aparatur desanya. Pihak aparatur desa yang
paling bertanggung jawab dalam mengirimkan rakyatnya menjadi romusha
adalah kepala desa atau lurah, dan camat setempat. Jumlah romusha yang
dikirimkan setiap minggunya mencapai 1.000 orang lebih. Selain
oleh aparatur pemerintah, pengerahan rakyat menjadi romusha juga
dilakukan oleh elite politik lokal maupun nasional. Para elite ini
biasanya melakukan propaganda kepada rakyat agar mau menjadi romusha di
luar daerah. Di Keresidenan Pekalongan, elite politik lokal yang
aktif mengirimkan romusha kepada Jepang berasal dari Partai Nasionalis
Indonesia (PNI), di mana Soekarno terlibat aktif dalam propaganda
kemenangan Asia Timur Raya.
Bandar Bola
Agen Bola
Agen Judi Bola Online
Agen Bola Terpercaya
Judi Bola
- by Fika lestari
0 comments:
Post a Comment