633 Cash - Palembang yang kondang sebagai salah satu kota wisata makanan di
Indonesia kini masih merawat makanan tradisional yang sudah mulai
langka. Selain camilan Gula Puan yang sudah sangat jarang ditemui, kini
ada camilan Gelenak yang juga termasuk langka dan semakin jarang ditemui.
Dari teksturnya, Gelenak
hampir mirip dengan wajik atau dodol. Bentuknya sedikit kenyal dan
manis, tapi terasa banyak elemen rempah-rempah saat mencicipinya.
Warnanya juga cokelat kehitaman dan dicetak dalam ukuran bulat kecil."Susah
mencari orang yang bisa membuat Gelenak ini karena dibuat dari
rempah-rempah asli Indonesia dengan takaran tertentu. Kalau saya sudah
dari kecil diajarkan orang tua agar mahir membuat makanan khas Palembang
ini," ujar Rofika (58), salah satu penjual Gelenak yang tersisa, kepada
kabarberita di Palembang.Camilan tradisional ini ternyata dibuat dari berbagai jenis
rempah-rempah, seperti gula, pala, jahe, sahang, kayu manis, engkeh,
cabai Jawa, kelapa, tepung, dan bahan lainnya. Proses
pembuatannya kira-kira memakan waktu dua jam, mulai dari pencampuran
rempah-rempah, penghalusan, sangrai dan kukus serta pencetakan. Untuk memperkaya rasa, Gelenak juga dicampur dengan taburan tepung tanpa rasa yang dibuat dari beberapa bumbu tradisional.Setiap hari, Rofika mampu membuat hingga 150 bungkus Gelenak
untuk kemudian ia jajakan di pasar-pasar tradisional. Barulah pada hari
Jumat, utamanya setelah salat Jumat, ia berjualan di halaman Masjid
Agung Palembang.Kendati merupakan makanan khas Palembang, Gelenak seakan dilupakan oleh
warga Palembang. Banyak warga lokal generasi tahun 2000 yang tidak tahu
dengan camilan ini. Sesekali cemilan ini hanya hadir saat bulan puasa
Ramadan saja. Alasan inilah yang membuat pemasaran cemilan
tradisional ini semakin langka dan sulit diedarkan. Namun Rofika tidak
berputus asa. Meskipun banyak yang sudah melupakan Gelenak, masih ada
langganannya yang selalu ketagihan mengonsumsi cemilan ini. "Kebanyakan pelanggannya adalah warga Tionghoa yang tinggal di kawasan Pasar Kentut, Sayangan, Palembang," ujar dia."Mereka
rutin memesan ke saya. Bahkan setiap saya berjualan di daerah Sayangan
Palembang, Gelenak dengan cepat habis dibeli. Beda dengan dijual di
pasar atau di kawasan warga lokal, sulit untuk laku semua. Mereka banyak
yang tidak tahu makanan apa ini," kata Rofika.Tidak seperti
Gula Puan yang hanya bisa bertahan selama seminggu, Gelenak lebih tahan
lama. Keawetan Gelanak bisa bertahan hingga satu bulan. Karena proses
pemasakannya dilakukan sebanyak dua kali, sehingga bahan-bahannya matang
dengan sempurna. "Bisa sampai sebulan awetnya, tidak perlu dimasukkan ke dalam kulkas," ucap Rofika.
Bandar Bola
Agen Bola
Agen Judi Bola Online
Agen Bola Terpercaya
Judi Bola
- by Fika lestari
0 comments:
Post a Comment