633 Cash - Jepang menarik duta besarnya untuk sementara di Korea
Selatan, terkait peletakkan patung budak seks atau perempuan yang
dipaksa bekerja di rumah bordil Jepang pada masa Perang Dunia II.
Patung ini diletakkan di luar kantor konsulat Jepang di kota Busan, Korea Selatan oleh para aktivis pada bulan lalu.
Korea Selatan sudah lama menyerukan kompensasi bagi para "perempuan penghibur", yang dipaksa bekerja di rumah bordil militer Jepang selama Perang Dunia II.
Hal ini, menurut Jepang, merupakan sebuah pelanggaran terhadap perjanjian yang disepakati untuk menyelesaikan isu ini.Patung perunggu setinggi 1,5 meter ini menggambarkan seorang perempuan muda duduk di bangku tanpa alas kaki.
Patung ini menjadi simbol ketidakadilan yang dihadapi oleh perempuan-perempuan penghibur Korea dan lambang perjuangan mereka untuk memperoleh permintaan maaf resmi dan kompensasi dari Jepang.
Diperkirakan ada 200.000 perempuan Korea yang dipaksa menjadi budak seks selama masa peperangan. Sisanya berasal dari Cina, Filipina, Indonesia dan Taiwan.
Permasalahan ini semakin memuncak setiap tahun, karena banyak para korban budak seks ini yang sudah berusia lanjut dan meninggal. Diperkirakan ada 46 perempuan penghibur Korea yang masih hidup.
Ini merupakan masalah antara Korea Selatan dan Jepang yang tak kunjung selesai.
Tidak. Bahkan, ada patung "budak seks" lainnya yang terkenal berdiri di luar kedutaan besar Jepang di ibu kota Korea Selatan, Seoul. Patung tersebut dipasang pada tahun 2011 dalam aksi demonstrasi para aktivis untuk menandai 1000 tahun pendudukan Jepang, mereka menyerukan permintaan maaf dan kompensasi dari Jepang.
Beberapa kalangan menyebutkan ada 37 korban budak seks yang masih hidup di Korea Selatan, sementara di Australia, patung serupa memicu perselisihan antara warga Korea dan kelompok masyarakat Jepang.Para aktivis Korea Selatan meletakkan patung tersebut di Busan pada tanggal 28 Desember lalu sebagai bentuk protes terhadap kesepakatan yang dibuat satu tahun sebelumnya, di mana Jepang meminta maaf dan berjanji untuk memberikan 1 miliar yen (atau sekitar Rp114 triliun) sebagai kompensasi bagi para "budak seks" Korea.
Korea Selatan sudah lama menyerukan kompensasi bagi para "perempuan penghibur", yang dipaksa bekerja di rumah bordil militer Jepang selama Perang Dunia II.
Hal ini, menurut Jepang, merupakan sebuah pelanggaran terhadap perjanjian yang disepakati untuk menyelesaikan isu ini.Patung perunggu setinggi 1,5 meter ini menggambarkan seorang perempuan muda duduk di bangku tanpa alas kaki.
Patung ini menjadi simbol ketidakadilan yang dihadapi oleh perempuan-perempuan penghibur Korea dan lambang perjuangan mereka untuk memperoleh permintaan maaf resmi dan kompensasi dari Jepang.
Diperkirakan ada 200.000 perempuan Korea yang dipaksa menjadi budak seks selama masa peperangan. Sisanya berasal dari Cina, Filipina, Indonesia dan Taiwan.
Permasalahan ini semakin memuncak setiap tahun, karena banyak para korban budak seks ini yang sudah berusia lanjut dan meninggal. Diperkirakan ada 46 perempuan penghibur Korea yang masih hidup.
Ini merupakan masalah antara Korea Selatan dan Jepang yang tak kunjung selesai.
Tidak. Bahkan, ada patung "budak seks" lainnya yang terkenal berdiri di luar kedutaan besar Jepang di ibu kota Korea Selatan, Seoul. Patung tersebut dipasang pada tahun 2011 dalam aksi demonstrasi para aktivis untuk menandai 1000 tahun pendudukan Jepang, mereka menyerukan permintaan maaf dan kompensasi dari Jepang.
Beberapa kalangan menyebutkan ada 37 korban budak seks yang masih hidup di Korea Selatan, sementara di Australia, patung serupa memicu perselisihan antara warga Korea dan kelompok masyarakat Jepang.Para aktivis Korea Selatan meletakkan patung tersebut di Busan pada tanggal 28 Desember lalu sebagai bentuk protes terhadap kesepakatan yang dibuat satu tahun sebelumnya, di mana Jepang meminta maaf dan berjanji untuk memberikan 1 miliar yen (atau sekitar Rp114 triliun) sebagai kompensasi bagi para "budak seks" Korea.
Bandar Bola Agen Bola Agen Judi Bola Online Agen Bola Terpercaya Judi Bola

0 comments:
Post a Comment