Live303 - Cacing pita diduga telah menjadi parasit bagi hewan lebih lama dari dugaan. Ilmuwan menemukan telur cacing pita di tinja hiu yang telah berusia 270 juta tahun. Fosil tinja hiu ditemukan di Brasil. Dari analisis sebuah coprolite atau fosil feses itu, ilmuwan mengungkap 93 telur cacing pita. Salah satu di antaranya kemungkinan memiliki larva yang sedang berkembang. Telur cacing pita yang ditemukan memecahkan sebagai telur cacing pita tertua.

Sebelumnya, telur cacing pita tertua berusia 140 juta tahun. Ukuran telur cacing pita begitu mungil, hanya 150 mikron atau 1,5 kali diameter sehelai rambut manusia. Ilmuwan menemukan telur itu dengan membelah tinja hiu menjadi beberapa potongan sebelum menggeledahnya.Proses penemuan telur cacing pita itu bukan hal yang mudah. Ada 500 tinja hiu yang ada di lokasi penemuan. Ilmuwan harus memilih salah satu untuk dipotong. "Untungnya, di salah satu potongan itu kami menemukan telur. Telur hanya ditemukan di salah satu dari potongan," kata Paula Dentzien-Dias, paleontolog Federal University of Rio Grande di Brasil yang memimpin studi ini, seperti dikutip Kabarberita. Melimpahnya tinja hiu di lokasi penemuan membuat ilmuwan menduga bahwa lokasi tersebut sebelumnya merupakan wilayah perairan. Di kemudian hari, perairan itu mengering. Bersama penemuan fosil tinja dan telur cacing pita kuno, ilmuwan juga menemukan mineral pyrite. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan penemuan fosil itu miskin oksigen. Lingkungan ini membantu mengawetkan fosil. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal PLoS ONE pada sabtu pagi.Fosil moyang segala makhluk di Bumi ditemukan. Fosil itu dinobatkan sebagai fosil tertua, berasal dari masa 3,49 miliar tahun lalu, hanya 1 miliar tahun setelah Bumi terbentuk. Tak seperti umumnya fosil yang harus digali, fosil ini ditemukan di permukaan batuan tertua di Bumi yang terdapat di wilayah Pilbara, Australia bagian barat. Fosil berupa jejak koloni bakteri purba. "Koloni bakteri ini adalah fosil tertua yang pernah dideskripsikan. Mereka adalah moyang tertua kita," kata Nora Noffle, peneliti biogeomikia dari Old Dominion University di Norfolk, seperti dikutip Kabarberita. Fosil bakteri tepatnya ditemukan di Strelley Pool Formation, struktur sedimen disebut stromatolit di Pilbara. Sejak 1980, peneliti menduga bahwa struktur tersebut terbentuk oleh bakteri. Namun, saat itu peneliti belum yakin sebab stromatolit juga bisa terbentuk sebab lain seperti arus.Dalam penelitian ini, ilmuwan menganalisis karbon yang menyusun stromatolit. Benda mati biasanya tersusun atas 99 persen karbon-12 yang lebih ringan dan 1 persen karbon 13. Sementara makhluk hidup seperti bakteri fotosintetik tersusun atas lebih banyak karbon 12 dan sedikit karbon 13. Analisis menunjukkan bahwa berdasarkan jenis karbon penyusunnya, ada fosil makhluk hidup pada batuan tersebut. Namun, jenisnya tak bisa diketahui sebab tak ada lemak atau protein tertinggal yang bisa digunakan untuk penentuan jenis.
Butuh tempat bermain JUDI BOLA ONLINE Silakan klik AGEN SBOBET IBCBET AGEN BOLA ONLINE AGEN SBOBET 25RB atau PREDIKSI PERTANDINGAN
- by Fika lestari
0 comments:
Post a Comment