Live303 - Sampai kapanpun, saksofon tak akan pernah hilang dari belantara musik pop. Seiring makin suburnya rupa-rupa subgenre musik pop, kita sebagai penikmat musik pop sepertinya sudah ikhlas menerima suara seksi sakfoson, sebuah instrumen sebelumnya banyak menerima cacian. Adalah M83 dan Kendrick Lamar yang menghidupkan keseksian suara saksofon dalam musik pop.

Sayangnya, di Amerika Utara, Saksofon masih dipandang dengan sebelah mata. Kalaupun mengaku mencintai saksofon, kebanyakan penduduk Amerika Utara menyayangi instrumen itu dengan penuh kenyinyiran. Sentimen yang sama tak ditemukan di sebuah desa kecil di Cina.Dalam sebuah artikel yang super aduhai dan bikin kami menyesal tak pernah menulisnya beberapa tahun lalu, New York Times mengulas Sidangkou, sebuah desa industri berpenduduk 4.000 orang yang terletak dekat Shanghai dan Tianjin serta telah didapuk sebagai “ibukota saksofon.” dalam artikel itu disebutkan bahwa Sidangkou mulai memproduksi saksofon pada tahun ‘90an dan mengekspornya pada konsumennya di barat. Makin hari, para pekerja di Sidankgou makin piawai membuat saksofon.Malah, saking eratnya imej desa ini dengan saksofon, beberapa lagu folk Cina dan Jepang serta karya-karya Kenny G (terutama lagu langganan mall perbelanjaan di Cina "Going Home") kini secara resmi masuk sebagai bagian dari "kurikulum saksofon." Yang menarik artikel yang diterbitkan oleh New York Times itu juga dipenuhi dengan pengakuan tulus penduduk Sidangkou mengenai kekuatan saksofon. Kamu mungkin mengira ini ucapan mereka cuma bualan belaka.Tapi, kami sarankan kalian tak melakukan hal tercela macam itu karena cinta penduduk Sidangkou terhadap saksofon begitu murni. Lagipula, saksofon tak pernah menyakiti hati siapapun, apalagi penduduk Sidangkou
Butuh tempat bermain JUDI BOLA ONLINE Silakan klik AGEN SBOBET IBCBET AGEN BOLA ONLINE AGEN SBOBET 25RB atau PREDIKSI PERTANDINGAN
- by Fika lestari
0 comments:
Post a Comment