Tuesday, November 6, 2018

MERASAKAN SENSASI HUMA DI ATAS LEMBAH MADERAN

633 Cash - “DUSCHE ist fertig, dusche ist fertig!” Teriakan bahwa kamar mandi sudah siap, menggema di bangunan berdinding batu menjelang senja.  Saya yang sedang menyiapkan sleeping bag, di antara kasur berdebu, berhenti sejenak.

 MERASAKAN SENSASI HUMA DI ATAS LEMBAH MADERAN
 
“Kalau sudah begini, bekerja sembilan jam pun oke,” imbuh pemilik teriakan, seorang laki-laki kekar berkebangsaan Polandia. Dia langsung menyeret saya ke sebuah ruangan sempit, yang dibatasi “kelambu”, yang terbuat dari terpal bekas. 
“Cobalah, cobalah, kamu belum mandikan,” katanya, setengah memerintah. Air yang mengucur dari shower, terasa hangat. Mandi? Tidaklah yaw. Saya juga baru semalam berada di sini, dan seharian hanya utak-atik kamera, atau menerbangkan drone saja.
Dia, laki laki Polandia itu, sudah sepekan berada di sini. Dan tiap hari harus bekerja memeras keringat. Jika tak mandi, kami seperti tidur bersama unta. Air shower memang hangat, namun di luar dinding itu, suhu sudah melorot ke titik 5 derajat Celsius. 
Menjelang malam, bisa makin turun, bahkan minus. Kami memang berada di tempat yang tidak biasa, khususnya ketinggiannya, yakni 2.337 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selemparan batu dari bangunan ini, lidah gletser Hufihirn sudah bisa dijamah. 
Lelehan air gletser itu membentuk air terjun, lalu jadi sungai kecil, dan akhirnya mengalir deras ke Lembah Maderan, Provinsi Uri. Terakhir akan menuju ke Telaga Lucerne yang tenang di Swiss Tengah.
Jika beruntung, dari tempat ini bisa menyaksikan sekawanan Bartgeier, burung kondor raksasa, yang sayapnya jika dibentangkan mencapai tiga meter. Makan apa burung kondor raksasa ini? Di atas kami cuma dinding batu, kerakal, pasir, salju atau gletser. Rusa, kelinci, tikus, rubah, atau ular? Ah, ular hanya dua macam di Swiss, dan tak akan kerasan hingga di tempat sedingin ini. 
“Semuanya, termasuk manusia,” kata pekerja yang lain. “Tapi jika sudah jadi bangkai,” tambahnya. Burung raksasa itu ditangkarkan di kebun binatang Arth Goldau, juga Swiss Tengah, lalu dilepaskan di lembah ini.
Mereka yang biasanya hidup berpasangan akan mengais bangkai binatang yang muncul ketika salju meleleh. Tak hanya dagingnya, tapi juga tulangnya. Saya kerap melihat ke langit jadinya. Dan sesekali terus bergerak agar tidak dikira bangkai. 

Butuh tempat bermain Bandar bola Silakan klik Agen Bola Terpercaya Agen Bola Resmi Agen Sbobet

- by Fika lestari

0 comments:

Post a Comment