633 Cash - Ketika membeli barang bermerek, di benak kita adalah kualitasnya terjamin. Apalagi dengan harga yang tinggi, tentunya kualitas enggak main-main.Tapi, jaminan ini tidak berlaku bagi pria malang bermarga Lim.
Sebab, sepatu yang baru saja dibeli dengan harga belasan juta rupiah itu rusak setelah beberapa jam dibawa pulang.Dikutip dari Kabarberita, awalnya sepatu yang dibeli di Pavilion Kuala Lumpur, Malaysia, itu dibanderol 4.590 ringgit atau sekitar Rp17,3 juta ringgit. Tapi ada diskon pada 2 November 2018 itu, Lim cukup menebusnya dengan Rp13,77 juta untuk membeli sepasang sepatu loafer hitam Gucci.Petaka itu terjadi setelah Lim memakai sepatu kulit itu selama tiga jam untuk jalan-jalan bersama teman-temannya. Setelah itu, dia sadar alas kaki sepatu itu mengelupas. Lim malu. “ Teman-teman saya bertanya apakah itu sepatu tiruan,” kata dia.Keesokan harinya, Lim membawa sepatu itu kembali ke toko dan mengajukannya untuk sepatu baru. Respons karyawan toko ini mengejutkan. Karyawan itu, menurut Kabarberita, justru bersikeras mengirim kembali sepatu ke markas Gucci di Italia untuk penyelidikan.“ Dua minggu kemudian, karyawan Gucci menelepon saya dan mengatakan masalahnya bukan di cacat produksi, melainkan perilaku konsumen,” kata dia.
Sebab, sepatu yang baru saja dibeli dengan harga belasan juta rupiah itu rusak setelah beberapa jam dibawa pulang.Dikutip dari Kabarberita, awalnya sepatu yang dibeli di Pavilion Kuala Lumpur, Malaysia, itu dibanderol 4.590 ringgit atau sekitar Rp17,3 juta ringgit. Tapi ada diskon pada 2 November 2018 itu, Lim cukup menebusnya dengan Rp13,77 juta untuk membeli sepasang sepatu loafer hitam Gucci.Petaka itu terjadi setelah Lim memakai sepatu kulit itu selama tiga jam untuk jalan-jalan bersama teman-temannya. Setelah itu, dia sadar alas kaki sepatu itu mengelupas. Lim malu. “ Teman-teman saya bertanya apakah itu sepatu tiruan,” kata dia.Keesokan harinya, Lim membawa sepatu itu kembali ke toko dan mengajukannya untuk sepatu baru. Respons karyawan toko ini mengejutkan. Karyawan itu, menurut Kabarberita, justru bersikeras mengirim kembali sepatu ke markas Gucci di Italia untuk penyelidikan.“ Dua minggu kemudian, karyawan Gucci menelepon saya dan mengatakan masalahnya bukan di cacat produksi, melainkan perilaku konsumen,” kata dia.

0 comments:
Post a Comment